Lamongan, Jawa Timur – Tradisi Ruwahan Sendangduwur, sebuah perayaan budaya yang kaya makna, kembali memeriahkan Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran. Acara tahunan ini, yang menjadi daya tarik wisata utama Lamongan, menampilkan beragam kesenian dan tradisi khas daerah tersebut.
Siti Rubikah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, menjelaskan bahwa Ruwahan Sendangduwur bukan hanya sekadar festival, tetapi juga wujud pelestarian budaya lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tahun ini, Ruwahan Sendangduwur kembali hadir dengan menampilkan kekayaan budaya Sendangduwur, ujarnya.
Navis Abdul Rouf, seorang pemerhati budaya Lamongan, menambahkan bahwa tradisi ruwahan di Lamongan, yang seringkali bertepatan dengan malam Nisfu Syaban, masih sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat. Tradisi ini menjadi momentum penting untuk membersihkan diri secara spiritual menjelang bulan Ramadan.
“Masyarakat meyakini malam Nisfu Syaban sebagai malam penuh berkah, di mana mereka saling memaafkan dan mempersiapkan diri secara rohani untuk menyambut Ramadan,” kata Navis. Tradisi ini, menurutnya, adalah kebiasaan turun-temurun yang tetap lestari hingga saat ini.
Dalam ritual ruwahan, warga membuat berbagai hidangan tradisional seperti ketupat, lepet, dan kue apem. Makanan-makanan ini kemudian dibawa ke langgar atau masjid untuk didoakan bersama, sebelum dinikmati bersama-sama sebagai simbol kebersamaan dan syukur.
Ketupat dan lepet, dua hidangan yang tak terpisahkan dari tradisi ruwahan, memiliki makna simbolis yang mendalam. Navis menjelaskan bahwa ketupat di malam Nisfu Syaban menjadi simbol ungkapan maaf masyarakat kepada Tuhan dan sesama manusia.
Selain Ruwahan Sendangduwur, terdapat pula tradisi brahatan yang serupa dengan yang dilakukan di Gresik. Tradisi ini semakin memperkaya khazanah budaya Lamongan.
Ruwahan Sendangduwur tahun ini, yang digelar pada 10 Februari, menyuguhkan berbagai kegiatan menarik, termasuk bazar UMKM, pameran sejarah dan budaya, sedekah kuliner, pawai budaya, dan drama kolosal. Drama kolosal tersebut mengisahkan tentang keajaiban sumur jangkang, sebuah cerita tentang harmoni, konflik, dan keputusan besar yang mengubah segalanya.
Acara ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga menjadi wadah bagi UMKM lokal untuk mempromosikan produk-produk unggulan mereka. Pameran sejarah dan budaya memberikan wawasan mendalam tentang sejarah dan perkembangan budaya Sendangduwur, sementara sedekah kuliner menjadi wujud kepedulian sosial masyarakat setempat.
Pawai budaya menampilkan keragaman kesenian dan tradisi Sendangduwur, memukau para penonton dengan kostum-kostum yang indah dan pertunjukan yang mempesona. Drama kolosal menjadi puncak acara, menghadirkan cerita yang menggugah emosi dan memberikan pesan moral yang mendalam.
Dengan beragam kegiatan yang menarik dan bermakna, Ruwahan Sendangduwur terus menjadi daya tarik wisata yang penting bagi Lamongan. Acara ini tidak hanya mempromosikan budaya lokal, tetapi juga meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
Tabel: Rangkaian Acara Ruwahan Sendangduwur
Acara | Deskripsi |
---|---|
Bazar UMKM | Promosi dan penjualan produk-produk unggulan UMKM lokal. |
Pameran Sejarah dan Budaya | Menampilkan sejarah dan perkembangan budaya Sendangduwur. |
Sedekah Kuliner | Pembagian makanan gratis kepada masyarakat sebagai wujud kepedulian sosial. |
Pawai Budaya | Menampilkan keragaman kesenian dan tradisi Sendangduwur. |
Drama Kolosal | Pementasan drama yang mengisahkan tentang keajaiban sumur jangkang. |
Ruwahan Sendangduwur adalah bukti nyata bahwa tradisi dan budaya lokal dapat menjadi daya tarik wisata yang kuat dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Comments